Arsil Ibrahim dilahirkan di Jambi pada tahun 1967 dari pasangan Azrai Ibrahim dan hairunnis. Jenjang akademisnya di mulai dari Pesantren Darunnajah, Jakarta Selatan. Kemudian beliau melanjutkan studi ke Pakistan dan berhasil menyelesaikan S1 di fakultas Sastra Arab, International Islamic University, Islamabad pada tahun 1991. Selama studidi Pakistan, penulis juga mempelajari seni pengobatan Akupunktur TanganKorea. Beliau berhasil lulus standar international dan mendapat ijazahpengobatan Akupunktur Tangan dari Koryo Sooji Chim Institute,Seoul,Korea.
Arus taqdir membawanya meneruskan pengembaraan ke negeri jiran. DiMalaysia, beliau kembali melanjutkan Program S2 di Fakultas LinguistikArab, International Islamic University, sambil bekerja menjadi dosen bantu untuk mata kuliah " Fundamentals of Islam". Beliau menyelesaikan Masternya di Universitas tersebut pada tahun 1995. Kota Kuala Lumpur yang romantis menjodohkan penulis dengan seorang gadis solehah bernama Mulyawati.
Sebagai seorang pendakwah, Arsil Ibrahim pernah menyampaikan ajaran Allah sampai ke kepulauan Solomon dan Brisbane, Australia. Keberangkatannyakesana disponsori oleh lembaga dakwah RISEAP ( Regional Islamic Dakwah for South East Asia and the Pacific )
Di Malaysia, penulis lebih dikenal sebagai seorang penerjemah buku-buku pemikiran. Tak kurang dari 8 karya fenomenal Dr. Yusuf Qardhawi dan 3karya Dr. Muhammad Al-Ghazali telah di terjemahkannya ke dalam bahasa Malaysia. Salah satu terjemahannya " Islam Tiang Peradaban Masa Depan " pernah diterbitkan oleh Institut Terjemahan Negara Malaysia dan dipublikasikanpelancarannya oleh Menteri Pendidikan disana.
Tanah air memanggilnya pulang untuk berkiprah di dunia ekonomi syari'ah. Jabatan pertama yang dipegangnya di belantara Jakarta adalah sebagai Direktur Pemasaran Asuransi Syariah Mubarakah. Setelah dua tahun di dunia bisnis Syari'ah, Arsil Ibrahim diminta untuk menjadi kepala Sekolah International Islamic Boarding School, Republic of Indonesia. Di sekolah inilah Arsil menemukan kebahagiannya bekerja mempersiapkan dan mengasah akal budi generasi Indonesia masa depan.
Sekarang penulis menetap di Cikarang ditemani isteri yang setia dan celoteh empat orang anak yang menyirami hatinya dengan kebahagiaan tiada tara. Sesekali beliau diminta mushola dan masjid-masjid di kampung Cikaranguntuk berceramah. Beliau juga pernah mengisi program "Semesta Ayat" di stasiun RCTI.
“Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah daripada harum minyak kasturi.” (HR. Bukhari).
“Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa”, lagu Bimbo itu kunyanyikan di depan Ayah berulang-ulang di tengah sebuah siang bulan Ramadhan yang panas. Sebenarnya aku tidak berniat apa-apa. Kebetulan lagu itu sedang hits dan sering muncul di radio sehingga mulutku yang hobi nyanyi ini latah dan terus menerus menyanyikannya. Tapi terus terang sebagai anak kecil yang baru belajar puasa, terkadang teks lagu itu ingin sekali kutanyakan kepada Ayah.
Ayah melambaikan tangannya kepadaku dan akupun mendekat.“Panggil uda dan uni semua ke sini. Ayah ingin bicara., ya.” Maka akupun keliling ke kamar atas, kamar bawah dan juga ke tetangga sebelah mencari uda dan uniku. Alhamdulillah dalam beberapa menit saja tugas itu dapat kuselesaikan. Mereka semua kini duduk bersila di hadapan Ayah.
Setelah Tarawih itu Ruru Aku kembali duduk di bawah pohon rindang berbangku itu Mengenang kembali tarawih-tarawih dulu Bersama anak-anak kita yang lucu Meminum bergelas-gelas air dingin dan manis Memandang bulan muda yang tersenyum mendengar cengkerama anak-anak kita.
Pemilihan Capres dan Cawapres Indonesia 2009 akhirnya usai sudah. Perhitungan Cepat (Quick Count) yang diadakan oleh beberapa lembaga rasanya sudah bisa memberi gambaran tentang siapakah yang akan memimpin Indonesialima tahun kedepan. Jika diibaratkan bahwa pemilu ini adalah sebuah musyawarah yang dihadiri oleh hampir setiap individu bangsa, maka tentunya kita telah datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan mengusung usulan kita yang terbaik. Seorang Muslim tentulah akan mengerahkan setiap potensi dan pemikiran terbaiknya sebelum memberikan pendapatnya dalam musyawarah nasional ini. Bukanlah Muslim yang baik jika dia datang tanpa terlebih dahulu memberikan 'ijtihad' atau hasil olahan batin dan pemikirannya sebelum dituangkan dalam kertas suara. Karena dalam demokrasi, amanah nasib bangsa tertoreh sepenuhnya di atas kertas suara yang kita dekorasi dengan pendapat dan keinginan kita. Dan kita berbaik sangka bahawa setiap individu memang telah melakukan hal itu dengan hati yang ikhlas, demi mengamankan perkembangan Indonesia lima tahun ke depan.