| Si Budi Tugu Pancoran (7) - Tamat |
| Written by Ust. Arsil Ibrahim MA | |
| Friday, 25 January 2008 | |
|
Belajar Menyanyi
Setelah hari itu di sekolah tidak ada lagi teman-teman yang berani menghina Budiman. Ustadz Wahab telah memanggil anak-anak nakal yang sering menghina Budiman. Beliau memberikan sangsi yang keras kepada mereka. Lagi pula, sekarang Budiman sudah memakai baju dan sepatu baru. Sudah sama dengan pakaian yang mereka pakai. Tidak ada lagi alasan mereka untuk memandang rendah kepada Budiman. Uang hasil ngamen yang diberikan Om Iwan cukup untuk membeli sepasang baju dan sepatu baru. Ternyata ketika Budiman dan Om Iwan mengamen di Blok-M beberapa hari yang lalu itu ada wartawan TV yang diam-diam meliput mereka. Tanpa disadari acara ngamen mereka berdua sudah disiarkan di berita selebritis. Budiman yang tidak punya TV tidak tahu menahu masalah itu. Tetapi baru saja ia melangkah masuk ke pekarangan sekolah, sejumlah guru dan anak-anak sudah menyalaminya. “Waah.. Budi selamat ya. Bisa tampil bareng sama Iwan Fals. Ngamen berdua lagi. Aduuh Budi, itu kan penyanyi kesayangan aku.” Demikian kata beberapa orang kakak kelasnya. Budiman terdiam beberapa saat sambil mengingat kembali kegiatan ngamennya bersama Om Iwan. “Lho, memangnya Om Iwan itu penyanyi terkenal, ya?” “Idih kamu ini gimana sih. Itukan Iwan Fals penyanyi yang sedang digandrungi saat ini oleh para remaja dan dewasa. Masak kamu nggak kenal?” Budi terkejut. Baru sekarang dia sadar bahwa Om Iwan memang benar adalah penyanyi Iwan Fals yang terkenal itu. “Aduh betapa bodohnya aku.” Kata budi dalam hati. Di sekolah dan di lingkungan kampung Pulo, Budiman kian terkenal dan makin disayang. Mereka semua saling bertanya sehingga mengetahui masa lalu Budiman yang sebenarnya adalah anak seorang hartawan dari Tebet. Mereka salut dan bangga dengan Budiman yang baik budi pekertinya dan memiliki semangat yang kental dalam menghadapi kehidupan. Siang itu Budi baru saja kembali dari sekolah. Ia segera mandi dan sholat Zuhur. Setelah itu Budiman menikmati hidangan yang disediakan Ibu; sayur oncom dan tahu goreng. Baru saja Budiman akan melangkah keluar menuju tempat Pak Dudung, sebuah mobil sedan terlihat berhenti di ujung gang. Om Iwan keluar dari sedan itu dan melangkah memasuki gang kecil menuju rumah petak Budiman. Budiman segera berlari menyambutnya. Ia mencium tangan Om Iwan dan mempersilahkannya masuk. “Begini Ibu, Budi.” Om Iwan memulai pembicaraan. “Bagaimana kalau mulai hari ini Budi bekerja dengan Om Iwan saja?” “Kerja apaan, Om. Memangnya Budi bisa bantu Om Iwan apa, ya?” “Begini Ibu, Budi. Om Iwan merasa Budi sangat berbakat dalam bidang musik dan seni suara. Sayang sekalai rasanya kalau bakat tersebut harus hilang begitu saja. Jadi Om meminta Budi untuk berlatih musik dan olah suara setiap hari di rumah Om. Tapi karena ini adalah suatu pekerjaan Budi harus mau digaji, ya”. “Om ini bagaimana. Masak Budi belajar sama Om, terus dibayar lagi. Dulu waktu Budi kursus musik kan Budi yang bayar gurunya.” “Bukan begitu maksud Om, Budi. Sebenarnya sudah lama Om ingin menerbitkan album anak-anak. Tapi sejauh ini Om belum menemukan penyanyi yang sesuai. Setelah berkenalan dengan Budi, Om merasakan Budilah calon penyanyi cilik yang Om cari. Budi harus banyak berlatih agar bisa tampil dengan prima.” Budi melihat ke arah Ibu dengan wajah memohon. Sungguh ingin sekali ia menerima tawaran Om Iwan. Alhamdulillah Ibu menggangguk tanda setuju. Budiman amat gembira dan segera memeluk Ibunya. Mulai hari itu, Budiman ikut Om Iwan ke studio musik di rumahnya. Rumah Om Iwan seperti sanggar musik saja. Berbagai alat musik dari yang moderen sampai tradisional ada di situ. Om Iwan memperkenalkan Budi dengan seseorang wanita setengah baya. “Budi, ini Tante Ros isteri Om Iwan. Dialah yang akan melatih bakatmu dalam seni musik dan olah suara. Om sendiri tidak bisa tiap hari menemanimu. Nanti supir Om yang akan menjemputmu tiap hari ke rumah.” Budi menyium tangan Tante Ros. Orangnya ramah dan murah senyum. Tante Ros tidak setengah-setengah melatih Budi mengolah suara dan bermain gitar. Sesekali mereka istirahat dan berbicara tentang banyak hal. Tante Ros juga mengajari Budi teknik pernafasan saat bernyanyi. Mereka berdua sering tertawa berdua karena lelucon yang diceritakan Om Iwan. Ternyata gaji yang diberikan Om Iwan setiap minggu amat banyak. Lebih banyak dari penghasilan Budi jualan koran selama dua bulan. Budiman merasa malu menerimanya. Tapi Tante Ros membujuknya dengan bahasa yang lembut. “Kalau Om Iwan memberikannya dengan ikhlas, Budi juga harus menerimanya dengan ikhlas.” “Baiklah, Tante. Tapi Om Iwan itu baik sekali, ya?” “Iya, kamu juga baik sekali, kok..” “He..he..Tante Ros bisa aja.” Sehabis latihan Budiman merasa haus sekali. Tante Ros menyiapkan es jeruk campur sedikit asam jawa. Rasanya enak sekali. Mereka berdua minum sampai bergelas-gelas. Tante Ros bilang minuman itu bagus untuk melancarkan pernafasan dan menyaringkan suara. “Kalau saja seluruh obat rasanya seperti ini, enak ya Tante?” “Iya, tapi esnya jangan banyak-banyak. Nanti malah sakit tenggorokan. Udah yuk, latihan lagi.
Menjadi Penyanyi Cilik Budiman berlatih musik dan bernyanyi dengan penuh semangat. Ia tidak pernah merasa bosan atau letih. Sebab menyanyi dan bermain musik adalah kesukaannya. Mana mungkin ia bisa bosan dan capek disuruh melakukan kesukaannya sendiri. Tante Ros bangga sekali menceritakan perkembangan pesat Budiman kepada Om Iwan. “Budiman itu benar-benar punya bakat yang besar. Saya malah banyak menemukan hal-hal baru dari gaya improvisasinya.” Kata Tante Ros. “Ya begitulah. Sejak pertama kali mendengar suaranya di jalanan, saya sudah merasakan hal itu.” Latihan baru berjalan tiga minggu Om Iwan sudah mengajaknya untuk membicarakan album yang akan digarap. “Budi, album yang akan kita buat ini bukan sekedar album anak-anak biasa. Ia tidak bercerita tentang angsa, atau kucing yang manis. Album ini sarat dengan nuansa pelajaran akhlak dan moral yang sekarang ini menjadi penyakit parah di kalangan anak-anak bangsa.” “Wah bagus sekali ya, Om. Budi setuju, tuh. Memang perlu teman-teman diberi tuntunan mengenai budi pekerti dan menghargai sesama manusia.” Budi menimpali dengan penuh semangat. “Tapi Om, bagus juga kalau kita sisipkan pesan-pesan keimanan dari Allah dan Rasulullah.” “Nah, inilah yang Om ingin bicarakan sebenarnya. Om sendiri dari dulu ingin memasukkan nuansa keislaman dalam album ini. Tapi Om tidak punya pengetahuan yang cukup untuk membuat lirik lagu bernafaskan Islam.” Budiman dan Tante Ros terdiam atas apa yang dikatakan oleh Om Iwan. Mereka berdua berfikir keras. Tiba-tiba Budiman berkata. “Kalau sekedar lirik bernafaskan Islam. Om Iwan nggak usah repot-repot. Budi kenal Ustad Wahab. InsyaAllah beliau bisa menolong kita untuk urusan ini.” “Ustad Wahab yang mana?” “Guru ngaji Budi, Om. Besok deh Budi ajak ke sini, ya.”
********** Seharusnya Budiman berlatih delapan minggu. Tapi karena ketekunan dan bakatnya yang hebat, baru enam minggu saja dia sudah bisa menguasai seluruh pelajaran yang diberikan oleh Tante Ros. Tante Ros sendiri sangat bangga dengan Budiman. Ia memberikan rekomendasi langsung kepada Om Iwan bahwa Budiman sudah siap untuk masuk ke dalam dapur studio. “Wah selamat ya Budi. Tante Ros bilang kamu sudah siap untuk rekaman.” “InsyaAllah, Om. Tapi kalau Budi nanti gugup diulang-ulang lagi, ya?” “Itu sih biasa. Om saja dulu pertama rekaman sampai diulang tujuh belas kali.” “Itu rekaman album kedua”, timpal Tante Ros. “Rekaman album pertama diulang sampai 21 kali.” Mereka tertawa lepas. Mulai hari itu, Budiman pun berlatih menyanyikan lagu-lagu yang diciptakan oleh Om Iwan. Liriknya menjadi bernafaskan Islam setelah mereka melibatkan Ustadz Wahab. Om Iwan sangat gembira sekali melihat kemajuan Budiman. Setelah menguasai lagu-lagu itu merekapun masuk ke dalam dapur rekaman. Mereka hanya memerlukan waktu sebulan saja untuk merampungkan album itu. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Rekaman pun sempurna dilakukan. Album sulung Budiman yang diberi judul ‘Hati Suci’ itu dicetak ribuan kopi. Om Iwan dan Tante Ros mengatur beberapa langkah untuk memasarkan album sulung Budiman itu. Mereka akan roadshow ke beberapa kota besar dan selanjutnya mengadakan ‘Grand Launching’ di sebuah hotel di Jakarta. Pamflet-pamflet dan brosur-brosur juga sudah dicetak untuk keperluan roadshow itu. Sejak hari itu suara Budiman yang bening dan sejuk sering terdengar di puluhan radio di seantero nusantara. Banyak orang yang terkesima mendengar suaranya yang khas itu. Album baru itu pun laku seperti kacang goreng. Apalagi mereka semua tahu bahwa pencipta lagunya adalah penyanyi kesayangan mereka; Iwan Fals. Setelah puas mengadakan roadshow ke beberapa kota besar di Jakarta. Maka sampailah saatnya mereka untuk mengadakan ‘Grand Launching’ atau pelancaran resmi album ‘Hati Suci’. Budiman mengundang teman-temannya ke hotel dan mendudukkan mereka di baris terdepan. Agus, Aziz, Yasin serta beberapa orang guru datang. Ibu, Zahra dan Tante Ros punya tempat sendiri di bangku VIP. Satu demi satu lagu dari album ‘Hati Suci’ dinyanyikan oleh Budiman. Para hadirin terkesima mendengar keindahan alunan musik dan suara Budiman. Ia tampil dengan penuh kesantunan dan rasa hormat kepada penonton. Satu persatu lagu-lagu dari album itu habis dinyanyikan. Setelah itu Om Iwan tampil ke tengah panggung. Para hadirin berdiri untuk member penghormatan kepadanya dan juga kepada Budi. Om Iwan memberikan mikrofon kepada Budi. “Katanya kamu ada yang ingin disampaikan, silahkan Budi.” Budiman memegang mikrofon itu dan memulai bicara dengan suara bergetar. “Saya ingin meyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT yang begitu sayang mendidik saya dalam kehidupan. Saya juga mengucapkan ribuan terima kasih kepada Om Iwan yang sekarang menjadi pengganti ayah saya. Saya menyampaikan doa tulus saya kepada ayahanda saya yang telah meninggalkan saya. Suara Budiman kian bergetar. “Dan tentu juga kepada Ibu saya dan adinda Zahra yang begitu tabah berdiri bersama di bawah hujanan penderitaan selama ini. Juga ustad Wahab yang mengembalikan keyakinan saya kepada Allah SWT. Terima kasih semuanya. Saya cinta kamu semua.” Terharu sekali para hadirin mendengar penyampaian Budiman yang mengalir dari lubuk sanubarinya yang terdalam. Om Iwan memeluk Budi dengan penuh kasih sayang. Kemudian ia berkata. “Budi, sebagai rasa kagum Om kepada semangat kamu. Om telah menciptakan sebuah lagu untuk mengenang pertemuan kita. Judulnya Sore Tugu Pancoran.”. Om Iwan meraih gitar yang ada di tangan Budi dan duduk mendekatkan dirinya kepada mikrofon. Para hadirin kembali bertepuk tangan dengan gemuruh. Selanjutnya terdengarlah suara merdu Om Iwan menyanyikan lagu berikut.
SORE TUGU PANCORAN (Iwan Fals)
Menahan dingin tanpa jas hujan Di simpang jalan Tugu Pancoran Tunggu pembeli jajakan koran
Menjelang maghrib hujan tak reda Si Budi murung menghitung laba Surat kabar sore di jual malam Selepas Isya melangkah pulang
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu Dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal.
Cepat langkah waktu pagi menunggu Si Budi sibuk siapkan buku Tugas dari sekolah selesai setengah Sanggupkah si Budi diam di dua sisi. |
| Next > |
|---|









