| Lemah Lembut |
| Written by Ust. Dr. H.Suhairy Ilyas, MA | |
| Friday, 08 January 2010 | |
|
Ayat diatas merupakan pengakuan dari Allah swt. atas sikap nabi Muhammad saw. yang senantiasa bersikap dan bertutur bahasa yang lemah lembut menghadapi umatnya yang berwatak keras. Betapapun keras dan kasar manusia yang didadapatinya, beliau tidak pernah membalasnya dengan kekasaran pula. Sebaliknya beliau tetap senyum dan bertutur bahasa yang penuh santun dan lembah lembut. Inilah salah salah satu factor yang telah membawa beliau sukses dalam menjalankan tugasnya sebagai rasul sehingga manusia manusia jahiliyah yahg kasar dan dan berwatak keras itu berhasil beliau robah menjadi umat yang merupakan “khaira Ummah” umat terbaik yang pernah diutus kedunia ini (QS.3:110). Pernah dua orang da’i menghadap kepada khalifah Harun al-Rasyid untuk menyampaikan dakwah dan taushiah. Keduanya dengan keras dan kasar membentak bentak sang khalifah, menyampaikan kritikan kritikan yang pedas. Setelah keduanya selesai menyampaikan taushiahnya, maka sang khalifahpun menyampaikan tanggapannya: “Ada dua orang yang jauh lebih baik daripada anda berdua diperintahkan Allah untuk menyampaikan taushiahnya kepada seorang yang jauh lebih jelek dari saya, namun Allah memerintahkan kedunya agar menyampaikan taushiahnya dengan lemah lembut.” Kedua orang da’i itu balik bertanya kepada sang khalifah; siapa yang anda maksudkan?. Khalifahpun menjawab dengan tenang : ” Silakan anda baca surat Thaha ayat 43-44 : 43. Pergilah kamu berdua(wahaiMusa dan Harun) kepada Fir'aun, Sesungguhnya dia Telah melampaui batas; 44. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".(QS.Thaha 20:43-44). Setelah kedua ayat tersebut dibacakan oleh sang da’i sang kahalifah memberikan komentarnya:” Bukankah Musa dan Harun jauh lebih baik dari anda berdua karena keduanya adalah rasul sedang anda hanya da’i dan bukankah Fir’aun lebih jelek dari saya karena dia adalah pengusa yang kafir sedangkan saya adalah seorang khalifah yang dibai’ah oleh kaum muslimin. Mendengar komentar sang kahlifah, maka kedua da’ipun merasa malu dihadapan khalifah dan merundukkan kepalanya karena merasa sudah salah kiprah.(HSI.030707) |